Pembangkit listrik geotermal merupakan salah satu sumber energi terbarukan yang dianggap lebih ramah lingkungan dibandingkan bahan bakar fosil. Namun, di balik manfaatnya, terdapat sejumlah bahaya yang mengintai baik bagi pekerja, masyarakat sekitar, maupun lingkungan. Berikut adalah beberapa risiko yang perlu diwaspadai:
1. Emisi Gas Beracun
Meskipun geotermal menghasilkan lebih sedikit emisi karbon dibandingkan pembangkit batu bara atau minyak, proses pengeboran dan produksi dapat melepaskan gas berbahaya seperti hidrogen sulfida (H₂S), yang bersifat toksik dan berbau seperti telur busuk. Paparan gas ini dalam konsentrasi tinggi dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan, pusing, hingga kematian.
2. Kontaminasi Air Tanah
Cairan dari reservoir geotermal mengandung logam berat seperti arsen, merkuri, dan boron, yang dapat mencemari air tanah jika terjadi kebocoran pada pipa atau sistem injeksi. Kontaminasi ini berisiko meracuni sumber air minum dan merusak ekosistem pertanian di sekitarnya.
3. Risiko Gempa Bumi (Induced Seismicity)
Aktivitas pengeboran dan injeksi fluida ke dalam bumi dapat memicu gempa mikro (micro-earthquakes). Meskipun umumnya kecil, dalam beberapa kasus, seperti di Basel (Swiss) dan Pohang (Korea Selatan), proyek geotermal pernah menyebabkan gempa yang merusak infrastruktur.
4. Suhu dan Tekanan Tinggi
Uap dan air panas yang digunakan dalam pembangkit geotermal memiliki suhu dan tekanan ekstrem. Kebocoran atau ledakan pipa dapat menyebabkan luka bakar serius bagi pekerja atau masyarakat yang berada di sekitar fasilitas.
5. Kerusakan Ekosistem
Pembangunan PLTP sering kali memerlukan pembukaan lahan dan penebangan vegetasi, yang dapat mengganggu habitat alami. Selain itu, pelepasan air panas ke sungai atau danau dapat meningkatkan suhu perairan, mengancam kehidupan akuatik.
6. Bahaya bagi Pekerja
Pekerja di pembangkit geotermal berisiko terpapar suhu tinggi, gas beracun, dan tekanan tinggi. Kecelakaan kerja seperti terpeleset di area licin atau terkena semburan uap panas juga menjadi ancaman serius.
Upaya Mitigasi
Untuk mengurangi risiko tersebut, operator PLTP harus:
-
Memasang sistem deteksi gas H₂S dan alat keselamatan kerja.
-
Memastikan penyimpanan dan injeksi fluida dilakukan dengan aman untuk mencegah kontaminasi.
-
Melakukan pemantauan seismik selama operasi.
-
Memberikan pelatihan keselamatan bagi pekerja dan masyarakat sekitar.
Kesimpulan
Meskipun energi geotermal lebih bersih daripada bahan bakar fosil, potensi bahayanya tidak boleh diabaikan. Pengelolaan yang hati-hati dan regulasi ketat diperlukan untuk memastikan keamanan pekerja, masyarakat, dan lingkungan.